20FIT .CO.ID


Lemak Tubuh Boleh Merosot tapi Tidak Dengan Testosteron

Lemak Tubuh Boleh Merosot tapi Tidak Dengan Testosteron
by

Testosteron menurun merupakan hal yang paling ditakutkan oleh semua laki-laki. Anda perlu mengetahui lebih jelas tentang penyebabnya.Hipogonadisme merupakan kondisi terkait suatu gejala klinis saat seorang pria mengalami kekurangan testosteron akibat kelenjar gonad dalam testis gagal memproduksi hormon testosteron.

BAHAYA HIPOGONADISME

Keberadaan hormon testosteron tidak hanya memengaruhi urusan seksualitas, terutama pada pria. Lebih dari itu hormon ini memiliki peran signifikan bagi kesehatan, terutama dalam fungsi metabolisme, pembentukan otot, kekuatan tulang dan kondisi emosional. Karenanya, jika tubuh mengalami kekurangan testosteron, maka akan menurunkan kualitas kesehatan.

Menurut penelitian, pria yang megalami kekurangan hormon ini biasanya juga mengalami gangguan sindrom metabolik, seperti diabetes melitus dan dislipidemia. Sebaliknya, bila seorang pria mengalami sindrom metabolik, maka orang tersebut cenderung akan mengalami Hipogonadisme.

Tak berhenti disitu, masalah metabolik bakal merembet ke penyakit lain bila tak segera diambil langkah pengobatan. Apa sajakah itu? Mulai dari penurunan kesehatan secara umum, depresi, penurunan kekuatan fisik dan konsentrasi, osteoporosis karena kepadatan tulang menurun, sampai penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, stroke, atau hipertensi. Di titik ini, defisiensi testosteron bukan hanya mengurangi kualitas hidup dan produktivitas kerja, tapi juga bisa berakibat fatal.

CEK SEJAK AWAL

Seperti sudah diungkapkan diatas secara sekilas, penurunan produksi hormon ini dapat dilihat dari beberapa gejala fisik. Untuk mengecek potensi Hipogonadisme dalam tubuh, kita bisa mengecek lewat perubahan fisik dalam tubuh kita, seperti penurunan massa otot, terjadi penumpukkan lemak atau obesitas, kerontokan rambut-rambut, disfungsi ereksi, dan atau mengecilnya ukuran testis.

Masalahnya, diagnosa Hipogonadisme tidak bisa ditegakkan hanya dengan melihat gejala-gejala tersebut. Karenanya, perlu penelitian secara medis, secara menyeluruh. Ditambah lagi, orang yang mengalami Hipogonadisme tidak mengalami perubahan fisik apapun sehingga sulit mengatakan bahwa dia mengalami Hipogonadisme tanpa ada tes medis.

Biasanya tindakan medis yang dilakukan untuk mengetahui kemungkinan Hipogonadisme adalah dengan menguji hormon pasien. Biasanya prosedur pengambilan serum harus dilakukan pada jam 07.00 – 11.00 karena pada jam tersebut level testosteron sedang tinggi. Selain pengujian sempel testosteron, pada hipogonadisme sekunder sering diperlukan pemeriksaan MRI ataau CT Scan untuk mengetahui adanya tumor di kelenjar hipofisis.

Qalbinur Nawawi – Fitness for Men Magazine

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *